CIREBON – Insiden robohnya atap lapangan upacara SMAN 1 Susukan, Kabupaten Cirebon, pada Rabu (21/1/2025) sekitar pukul 14.45 WIB lalu, tidak ada korban jiwa.
Pihak sekolah menegaskan bahwa satu siswa yang sempat tertimpa material atap hanya mengalami luka ringan dan telah diperbolehkan pulang setelah menjalani pemeriksaan medis.
Kepala SMAN 1 Susukan, Ukendi Andriyana, menjelaskan peristiwa tersebut terjadi saat kawasan sekolah diguyur hujan deras disertai angin kencang. Kondisi cuaca ekstrem itu diduga kuat menjadi penyebab utama ambruknya atap lapangan upacara.
“Cuaca saat itu memang sangat buruk, hujan lebat dan angin cukup kencang. Kami menduga itu yang menyebabkan atap roboh,” ujar Ukendi kepada awak media, Kamis (22/1/2025).
Ia menuturkan, ketika kejadian berlangsung sebagian besar siswa sudah pulang. Hanya beberapa siswa kelas X E yang masih berada di sekolah karena sebelumnya dijadwalkan mengikuti latihan upacara. Namun, latihan tersebut telah dibatalkan lantaran cuaca tidak memungkinkan.
Meski demikian, tiga siswa masih berada di sekitar lokasi. Saat atap mulai ambruk, dua siswa berhasil menyelamatkan diri dengan berlari menjauh. Sementara satu siswa bernama Yusi tidak sempat menghindar dan tertimpa reruntuhan atap.
“Korban langsung kami evakuasi dan dibawa ke RS Mitra Plumbon. Setelah menjalani pemeriksaan medis, termasuk rontgen, Alhamdulillah siswi tersebut dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang bersama orang tuanya,” kata Ukendi.
Namun, musibah belum berhenti sampai di situ. Salah seorang guru Bahasa Inggris SMAN 1 Susukan, Danal Alam, yang turut membantu proses evakuasi korban, tiba-tiba pingsan setelah berkumpul di depan ruang guru.
“Kami segera menolong dan membawanya ke area lobi untuk menjauh dari kerumunan. Respons beliau semakin menurun hingga akhirnya kami membawanya ke IGD RSUD Arjawinangun,” ungkap Ukendi.
Sekitar pukul 15.10 WIB, dokter menyatakan Danal Alam meninggal dunia. Berdasarkan keterangan medis, almarhum telah mengalami serangan jantung sejak masih berada di sekolah.
“Perlu kami tegaskan bahwa wafatnya guru kami tidak berkaitan langsung dengan kejadian robohnya bangunan. Lokasi beliau berada jauh dari titik kejadian dan terdapat jeda waktu antara peristiwa robohnya atap dan beliau pingsan,” tegas Ukendi.
Ia menambahkan, berdasarkan keterangan pihak keluarga dan rekan-rekan guru, almarhum dalam beberapa waktu terakhir sering mengeluhkan nyeri dada dan sesak napas. Kondisi tersebut diduga diperberat oleh kelelahan dan aktivitas fisik saat membantu evakuasi korban.
Untuk menjaga keselamatan seluruh warga sekolah serta memastikan situasi tetap kondusif, pihak sekolah memutuskan mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke pembelajaran daring mulai Kamis (22/1/2025).
“Anak-anak belajar dari rumah dan diberikan tugas oleh masing-masing guru. Langkah ini bersifat sementara. Insya Allah, Senin, 26 Januari 2026, siswa sudah dapat kembali masuk sekolah dan mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa,” ujarnya.
Ukendi memohon doa dan dukungan dari masyarakat serta insan pers agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi.
“Kami berharap rekan-rekan media dapat membantu meluruskan apabila ada informasi yang tidak benar terkait kejadian ini. Terima kasih atas perhatian, dukungan, dan doa dari semuanya,” pungkasnya. (Afif/CIBA)



