Penyebaran Covid-19 di dunia semakin meluas bahkan jumlahnya terus bertambah. Hal ini tentunya membuat warga dunia menjadi khawatir tidak terkecuali di Indonesia. Siapapun berusaha menghindari tidak terkecuali masyarakat Cirebon. Semua berusaha menjaga agar tidak terpapar Covid-19 termasuk salah satu karyawan perbankan di Kota Cirebon, sebut saja Mawar.
Namun, bak petir di siang bolong, Mawar secara tiba-tiba dinyatakan terpapar Covid-19. Mawar terpapar setelah kantornya ternyata menjadi salah satu klaster penyebaran Covid-19. Tentu saja hal ini membuat Mawar gamang dan dilanda ketakutan.
“Saya dilanda ketakutan. Apalagi saya memiliki dua anak dan salah satunya masih berumur tiga tahun. Saya khawatir jika anak saya dan keluarga terpapar Covid-19 ketika itu,” ungkap Mawar.
Mawar kemudian menjalani perawatan dan isolasi di RS Ciremai sebagai rujukan pasien Covid-19. Bak habis jatuh tertimpa tangga, putri kedua Mawar yang berumur 3 tahun dan suaminya ternyata dinyatakan terpapar. Ketika itu Mawar semakin kalut bahkan sempat mengalami depresi. Beruntung suami dan anaknya diperbolehkan menjalani isolasi mandiri di rumah .
“Ketika itu, saya terpuruk. Selalu teringat dengan si kecil dan selalu diliputi perasaan bersalah. Hancur hati saya ketika itu. Tapi Alhamdulillah berangsur-angsur saya dapat mengendalikan emosi karena juga harus menjalani perawatan agar sembuh dari Covid-19,” kenang Mawar sambil menyeka air matanya.
Mawar kemudian menjalani perawatan dengan baik sehingga cepat pulih. Sementara suami dan anaknya pun menjalani perawatan dengan pantauan Satgas Covid-19 Kota Cirebon. Keluarga kecil tersebut akhirnya dinyatakan sembuh setelah selama 14 hari menjalani perawatan.
“Sekarang saya dan keluarga dinyatakan sudah sembuh. Saya berterima kasih atas semua bantuan tim Satgas Covid-19, petugas medis dan masyarakat sekitar rumah saya. Masyarakat di sini banyak membantu terutama menyediakan makanan buat suami dan anak ketika menjalani isolasi,” ucap Mawar.
Saat ini Mawar mengaku selalu bersikap hati-hati dalam pergaulan. Dia percaya dengan anjuran pemerintah yang mengharuskan setiap orang melaksanakan protokol kesehatan. Setelah sembuh tentunya dia bersama keluarga ingin menjalani kehidupan dengan normal.
“Hanya satu harapan kami sekarang. Jangan kucilkan kami,” tandasnya.
Perasaan yang sama juga pernah dialami oleh salah seorang guru SMP, S yang ikut terpapar setelah istrinya, I dinyatakan positif Covid-19. S mengaku sempat khawatir ketika dinyatakan terpapar Covid-19. I terpapar terlebih dahulu usai merawat anaknya yang tinggal di Jakarta juga dinyatakan positif Covid-19. Dia kemudian menjalani perawatan di RS Gunung Jati secara terpisah dengan istrinya.
“Bagaimana tidak kalut ternyata saya dan istri dinyatakan positif Covid-19. Saya kemudian berpikir positif agar tetap tenang dan mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan isolasi dan perawatan,” kata S.
Usai menjalani perawatan S dan istrinya dinyatakan sembuh. Namun, saat ini dia dan istrinya mengaku dilanda ketakutan akan dijauhi oleh masyarakat sekitar rumahnya. Dia berharap kepada pemerintah agar memberikan himbauan mantan pasien Covid-19 jangan ada yang dikucilkan para tetangganya.
“Kami mahluk sosial yang tentunya harus berinteraksi. Akibat banyaknya sosial media yang menginformasikan berita yang tidak benar ada beberapa warga terpengaruh berusaha menjauhi mantan pasien Covid-19,” keluh S.
Di Kota Cirebon saat ini terdapat 72 orang sudah dinyatakan sembuh Covid-19 dari 131 orang yang dinyatakan positif. Beberapa pejabat dan tokoh masyarakat pernah menjalani perawatan dan isolasi setelah dinyatakan terpapar Covid-19. Mereka diantaranya Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Drs. H. Agus Mulyadi, MSi, Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon, Fitria Pamungkaswati dan tokoh ulama Ketua At Taqwa Centre, Ustad Ahmad Yani serta lainnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr. H. Edi Sugiyanto, MKes mengatakan masyarakat tidak perlu berlebihan ketakutan dengan pasien Covid-19 yang sudah dinyatakan sembuh. Tidak boleh ada masyarakat yang dikucilkan karena hanya pernah terpapar Covid-19.
“Jangan kucilkan mereka. Justeru pasien yang dinyatakan sembuh harus mendapat perhatian orang lain. Hati-hati boleh tapi tidak perlu berlebihan. Kita harus menggunakan protokol kesehatan dengan siapapun,” ungkap Edi.
Edi menambahkan yang terpenting masyarakat harus melaksanakan 3 M yakni menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan. Hal ini yang dapat mencegah orang terpapar Covid-19 karena siapapun berpeluang dinyatakan positif bila ceroboh. (Arif Rohidin/CIBA)




