INDIA — India bukan negara yang bisa dipahami dalam sekali datang. Ia memperkenalkan dirinya perlahan, lewat jejak batu, ruang sunyi, percakapan sederhana, dan rutinitas yang terus berjalan. Sejarah dan kehidupan sehari-hari hadir berdampingan. Pengalaman berlapis inilah yang menjadi inti dari Familiarization Visit of Content Creators and Social Media Influencers yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri India melalui Divisi External Publicity and Public Diplomacy pada tanggal 10-19 Desember 2025 lalu.
Dalam program ini, para konten kreator dan digital storyteller dari Indonesia, Jepang, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Singapura, Korea Selatan, Sri Lanka, dan Thailand diajak menyusuri berbagai wilayah India. Perjalanan ini bukan sekadar tur pengenalan, melainkan ruang perjumpaan antarmanusia, tempat pengalaman pribadi perlahan membentuk pemahaman lintas budaya.
New Delhi: Awal Perjalanan Sejarah
Perjalanan dimulai di New Delhi, ibu kota yang menyimpan jejak kekuasaan berlapis dari berbagai zaman. Kunjungan ke Makam Humayun membuka perjalanan dengan suasana tenang dan reflektif. Dibangun pada abad ke-16, kompleks ini memperlihatkan filosofi arsitektur Mughal yang menekankan keseimbangan, keteraturan, dan hubungan antara ruang dan alam. Taman makam ini kerap disebut sebagai pendahulu Taj Mahal, sekaligus pintu masuk menuju masa lalu kekaisaran India.
Dari sana, rombongan melanjutkan perjalanan ke Qutub Minar. Menara batu yang menjulang ini berdiri di tengah kompleks bangunan kuno yang mencerminkan fase awal kekuasaan Islam di India utara. Ukiran ayat-ayat Al-Qur’an berdampingan dengan sisa struktur Hindu dan Jain, menampilkan sejarah yang tidak tunggal, melainkan terbentuk dari pertemuan, pergeseran, dan penyesuaian budaya.
Sore hari dihabiskan di Museum Nasional. Di ruang-ruang pamerannya, ribuan tahun peradaban India dirangkum melalui artefak Lembah Indus, patung Buddha, manuskrip kuno, hingga peninggalan era kolonial. Museum ini menegaskan satu gagasan penting: India tidak dibangun oleh satu narasi besar, melainkan oleh banyak kisah yang saling berkelindan.
Menjelang malam, suasana berubah saat rombongan mengunjungi Kuil Akshardham. Meski baru dibangun pada abad ke-21, kompleks ini berakar kuat pada tradisi lama. Ukiran batu yang detail, pameran interaktif, dan tata ruang modern menunjukkan bagaimana nilai spiritual tetap hidup dan relevan di tengah zaman yang terus berubah.
Negara, Iman, dan Ingatan Kolektif
Hari kedua membawa rombongan menelusuri fondasi negara dan kehidupan sosial India. Di Rashtrapati Bhawan, kediaman resmi Presiden India, peserta melihat bangunan yang dulu menjadi simbol kekuasaan kolonial Inggris. Kini, tempat ini berdiri sebagai penanda kedaulatan India sebagai negara demokratis.
Suasana kemudian bergeser di Gurudwara Bangla Sahib, salah satu pusat ibadah Sikh terpenting di Delhi. Di balik kemegahan bangunan dan kolam sucinya, inti dari tempat ini terletak pada dapur umum atau langar. Duduk bersama di lantai dan menyantap makanan yang sama, para peserta merasakan langsung nilai kesetaraan dan pelayanan yang menjadi ajaran utama Sikhisme.
Perjalanan berlanjut ke India Gate, monumen peringatan bagi tentara India yang gugur dalam Perang Dunia I. Terletak di jantung kota, monumen ini bukan hanya ruang mengenang sejarah, tetapi juga bagian dari kehidupan publik yang terus berlangsung.
Hari ditutup dengan jamuan makan malam bersama Juru Bicara Resmi Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal. Dalam suasana informal, diskusi berkembang tentang peran kreator digital, cara membangun narasi lintas budaya, dan bagaimana pengalaman personal kini menjadi bagian penting dari diplomasi publik.
Dari Perkotaan Menuju Ruang Sunyi dan Perenungan
Pada hari ketiga, perjalanan beralih dari pusat politik menuju jantung spiritual India. Rombongan terbang ke Bodh Gaya, Bihar, tempat yang disucikan umat Buddha dari berbagai penjuru dunia. Ritme perjalanan pun melambat, memberi ruang untuk refleksi.
Kunjungan dimulai di Patung Buddha Raksasa, sosok monumental yang duduk bermeditasi di ruang terbuka. Meski berukuran besar, patung ini memancarkan ketenangan dan welas asih, mengingatkan pada pesan damai ajaran Buddha.
Rombongan kemudian mengunjungi Kuil Indosan Nipponji, yang mencerminkan hubungan spiritual antara India dan Jepang. Desainnya yang sederhana memperlihatkan bagaimana ajaran yang lahir di India menyebar ke Asia Timur dan kembali dalam bentuk penghormatan lintas budaya. Di Wat Thai Buddhagaya, nuansa Thailand terasa kuat, memperlihatkan bagaimana Bodh Gaya menjadi ruang pertemuan berbagai tradisi Buddhis.
Di Museum Arkeologi Bodhgaya, artefak dan patung kuno menampilkan perjalanan panjang seni dan spiritualitas Buddha. Sejarah tidak terasa jauh, melainkan hadir sebagai kesinambungan yang masih dijalani hingga kini.
Pendakian ke Gua Dungeshwari membawa rombongan ke tempat Siddhartha Gautama diyakini menjalani tapa keras sebelum menemukan Jalan Tengah. Medan yang terjal menegaskan bahwa pencerahan lahir dari proses panjang, bukan dari jalan yang mudah.
Menjelang malam, rombongan tiba di Kuil Mahabodhi dan Pohon Bodhi. Di bawah cahaya redup dan doa-doa lirih, para peziarah dari berbagai negara duduk dalam keheningan. Pada momen ini, perbedaan latar belakang terasa memudar.
Bihar: Keteguhan dan Warisan Intelektual
Hari berikutnya menyoroti kisah keteguhan manusia. Di Gunung Dashrath Manjhi, para peserta mendengar cerita tentang seorang pria yang memahat jalur di antara bukit demi menghubungkan desanya. Kisah ini mengingatkan bahwa perubahan besar kerap lahir dari ketekunan individu.
Perjalanan berlanjut ke Reruntuhan Nalanda Mahavihara, salah satu pusat pendidikan terbesar di dunia pada masanya. Berjalan di antara sisa-sisa biara dan ruang belajar, para peserta melihat bukti nyata pertukaran ilmu lintas Asia yang telah berlangsung berabad-abad lalu.
Di dekatnya, Universitas Internasional Nalanda berdiri sebagai upaya menghidupkan kembali semangat keilmuan tersebut. Masa lalu dan masa kini bertemu dalam satu lanskap yang sama.
Hari ditutup dengan kunjungan ke Vishwa Shanti Stupa dan Danau Ghora Katora, ruang alam yang tenang untuk mengakhiri rangkaian perjalanan di Bihar.
Odisha: Dari Refleksi Moral ke Kejayaan Seni
Hari keenam membawa rombongan ke Bhubaneswar, Odisha. Di World Skill Center, peserta melihat fokus India pada pendidikan vokasi dan pengembangan generasi muda sebagai bagian dari pembangunan masa depan.
Di Dhauligiri, Prasasti Batu Ashoka dan Shanti Stupa menandai titik balik sejarah Perang Kalinga, ketika Kaisar Ashoka memilih jalan tanpa kekerasan. Tempat ini menjadi simbol bagaimana refleksi moral dapat mengubah arah sejarah.
Eksplorasi berlanjut ke Gua Udayagiri dan Khandagiri, tempat pertapaan para biksu Jain di masa lalu. Puncak perjalanan hadir di Kuil Matahari Konark. Dirancang sebagai kereta batu raksasa untuk Dewa Matahari, kuil ini menunjukkan keunggulan seni dan pengetahuan India kuno. Meski sebagian runtuh, kemegahannya tetap terasa.
Sembilan Hari Kebersamaan
Sembilan hari memang singkat, tetapi cukup untuk membuat wajah-wajah asing menjadi akrab. Bergerak bersama dari kota ke kota, kuil ke museum, bandara ke penginapan, para peserta perlahan memahami ritme satu sama lain. Dari perkenalan formal, tumbuh kebersamaan lewat makan bersama, kelelahan yang sama, dan momen-momen hening yang dibagi bersama.
Khim dari Thailand menggambarkan perjalanan ini sebagai pengalaman yang personal dan penuh energi positif. Bukan hanya tempat-tempat yang ia kunjungi, tetapi juga orang-orang yang ia temui membuat setiap hari terasa bermakna.
Jerry Cho dari Korea Selatan melihat perjalanan ini sebagai kesempatan langka untuk menyaksikan masa lalu, masa kini, dan masa depan India dalam satu rangkaian. Keberagaman agama yang hidup berdampingan membuat India terasa lebih dekat dan tidak lagi abstrak.
Afiq Rahim dari Malaysia merasakan bahwa kunjungan ini jauh melampaui tur pengenalan biasa. Interaksi dengan komunitas lokal dan sistem kepercayaan yang berbeda memberinya pemahaman baru tentang bagaimana India menjaga warisan kuno sambil terus bergerak maju.
Bagi Bulga dari Mongolia, perjalanan ini memiliki makna emosional yang mendalam. Ini adalah pengalaman terbang dan bepergian ke luar negeri pertamanya. Sebagai jurnalis, ia melihat India melampaui judul berita. Momen di Gurudwara Bangla Sahib, dengan pesan sederhana tentang kesederhanaan hidup, menjadi kenangan yang terus melekat.
Dari Indonesia, Pandhu mengenang perjalanan ini dengan rasa syukur. Persahabatan yang terjalin dan kesempatan melihat lapisan-lapisan kuno India dari dekat menjadi pengalaman berharga. Momen favoritnya ada di Nalanda, saat masa lalu dan masa kini berdiri berdampingan, mencerminkan esensi India itu sendiri.
Selama sembilan hari, perbedaan kebangsaan dan profesi perlahan memudar. Yang tersisa adalah pengalaman bersama: menunggu penerbangan, berjalan di bawah matahari yang sama, duduk bersila bersama, dan berdiri hening di tempat-tempat di mana sejarah dan keyakinan bertemu.
Ketika perjalanan berakhir dan setiap orang kembali ke negaranya masing-masing, itinerary memang selesai. Namun kebersamaan itu tidak. Ia berlanjut dalam ingatan, percakapan, dan cerita yang akan terus dibagikan. Melalui suara-suara inilah, India hadir bukan sebagai satu narasi tunggal, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dibentuk oleh perjumpaan.
Pada akhirnya, perjalanan familiarisasi ini tidak mengajak peserta mengagumi India dari kejauhan. Ia mengundang mereka berjalan bersama, cukup lama untuk menumbuhkan pemahaman, secara pelan dan kolektif.
Artikel ini juga tayang di VRITIMES



