JAKARTA, 17 Januari 2026 – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah menyiapkan rencana penanganan permanen pada infrastruktur jalan segmen Simpang Rampa–Sibolga via Batu Lubang di Provinsi Sumatera Utara. Penyusunan rencana itu dilakukan untuk mengembalikan konektivitas jalan yang longsor akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 lalu.
Berdasarkan hasil identifikasi teknis di lapangan, bencana tanah
longsor pada segmen Simpang Rampa–Sibolga via Batu Lubang itu terjadi di
beberapa titik di Desa Simaninggir. Material lereng di lokasi longsor ini terus
bergerak, sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk pembangunan jalan darurat.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menegaskan bahwa
pemulihan infrastruktur jalan dan jembatan adalah wujud nyata komitmen
pemerintah dalam menjaga nadi perekonomian dan sosial masyarakat saat bencana.
“Menjaga konektivitas infrastruktur jalan dan jembatan menjadi
prioritas utama pemerintah dalam situasi darurat bencana, mengingat perannya
yang sangat vital bagi aktivitas masyarakat dan distribusi logistik,” ujar
Menteri Dody.
Meski saat ini segmen Simpang Rampa–Sibolga via Batu Lubang sudah
terhubung, jalur tersebut belum dapat dilalui kendaraan umum demi alasan
keselamatan. Kementerian PU masih terus mengoptimalkan perbaikan jalan darurat
di lokasi tersebut untuk meningkatkan aspek keselamatan. Saat ini, akses dari
Tarutung ke Kota Sibolga dapat ditempuh melalui Jalan Nasional Ruas Bts. Kota
Tarutung – Sp. Rampa – Poriaha – Sibolga.
Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera
Utara Hardy Siahaan mengatakan saat ini masih terus dilakukan penanganan jalan
darurat pada lokasi longsoran Desa Simaninggir. Sedangkan untuk penanganan
permanen, Kementerian PU sedang melaksanakan survei detail dan membuat
perencanaan.
Ada dua opsi utama yang sedang dipertimbangkan untuk penanganan
permanen, yaitu: relokasi trase dengan memindahkan jalur ke area yang lebih
aman dari potensi longsoran, atau mempertahankan trase awal namun dengan
rekayasa teknis berupa pemotongan dan penyesuaian kemiringan tebing, serta
pembangunan jembatan untuk meningkatkan aspek keamanan.
“Kami terus memantau kondisi infrastruktur di wilayah
terdampak bencana serta melakukan langkah-langkah cepat dan tepat guna menjaga
konektivitas antarwilayah tetap terjaga, salah satunya akses dari dan menuju
Sibolga,” ungkap Hardy.
Paralel dengan rencana penanganan permanen Simpang Rampa–Sibolga
via Batu Lubang, Kementerian PU melalui BBPJN Sumut terus melakukan penanganan
infrastruktur jalan dan jembatan lainnya yang terdampak bencana.
Hingga 14 Januari 2026 pukul 20.00 WIB, Kementerian PU mencatat
progres signifikan di 12 kabupaten/kota terdampak. Tim dari Kementerian PU
telah berhasil melakukan pembersihan dan perbaikan 263 titik longsoran tebing.
Selain itu juga telah tuntas melakukan penanganan sementara 65 titik jalan
amblas, penanganan sementara 19 titik jalan putus, dan melakukan penanganan
sementara seluruh jembatan rusak. Genangan banjir juga telah surut di sejumlah
lokasi.
Selain itu, Kementerian PU juga berhasil menghubungkan kembali
konektivitas koridor jalan Tarutung–Sipirok sepanjang 68 km. Jalur ini masih
terus disempurnakan melalui perbaikan detour demi keselamatan
pengguna jalan. Koridor Sibolga–Batangtoru juga telah fungsional setelah
pemasangan dua unit Jembatan Bailey di Sungai Garoga.
Memasuki awal tahun 2026, Kementerian PU mulai melaksanakan survei
dan perencanaan detail yang akan dilanjutkan dengan penanganan permanen di
sejumlah jalan utama yang terdampak bencana di Sumatera Utara, yaitu ruas jalan
Tarutung – Sibolga, Tarutung – Sipirok – Padang Sidempuan, Sibolga – Batangtoru
– Padang Sidempuan, Batangtoru – Singkuang, serta Batas Aceh – Barus – Sibolga.
Program kerja ini
merupakan bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak – Berdampak” dalam menjalankan
ASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.
#SigapMembangunNegeriUntukRakyat
#SetahunBerdampak
Artikel ini juga tayang di VRITIMES

