CIREBON.- Kota Cirebon hari ini bukan sekadar kota transit. Sebagai jantung wilayah Ciayumajakuning, Cirebon memikul beban pembangunan yang kompleks, mulai dari isu disparitas ekonomi, digitalisasi birokrasi, hingga masalah klasik seperti sampah dan banjir. Di tengah tantangan ini, muncul sebuah pertanyaan besar: di mana posisi pemuda?
Selama ini, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Karang Taruna di Kota Cirebon bergerak dengan jalurnya masing-masing. KNPI dengan peran strategisnya sebagai wadah berhimpun organisasi kepemudaan (OKP), dan Karang Taruna dengan akar rumputnya yang kuat di tingkat kelurahan hingga Rukun Warga (RW). Oleh karena itu, ego sektoral harus segera diakhiri. Persatuan antara KNPI dan Karang Taruna di Kota Cirebon bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk mengawal tata kelola wilayah.
Mengapa Harus Bersatu?
Sinergi kedua lembaga ini akan menciptakan “Double Helix” pembangunan. KNPI membawa gagasan intelektual dan tekanan kebijakan (policy pressure), sementara Karang Taruna menyediakan eksekusi lapangan dan basis data sosial yang riil. Jika keduanya bersatu dalam satu visi pembangunan daerah, Pemerintah Kota Cirebon akan memiliki mitra strategis yang tak tertandingi dalam mengawasi dan menjalankan program.
Skala Prioritas: Apa yang Harus Diperbaiki?
Berdasarkan analisis kondisi objektif Kota Cirebon saat ini, berikut adalah tiga skala prioritas yang membutuhkan campur tangan langsung dari persatuan pemuda:
1. Tata Kelola Lingkungan & Sampah (Skor Prioritas: Tinggi)
~ Data/Masalah: Produksi sampah Kota Cirebon mencapai lebih dari 80-100 ton per hari, dengan beban berat pada TPA Kopi Luhur.
~ Peran Pemuda: Karang Taruna mengelola bank sampah di tingkat RW, sementara KNPI melakukan lobi kebijakan kepada Pemkot untuk penyediaan infrastruktur pengolahan sampah modern (TPS3R).
2. Pengentasan Pengangguran Terbuka (Skor Prioritas: Menengah-Tinggi)
~ Data/Masalah: Angka Pengangguran Terbuka (TPT) di perkotaan seringkali didominasi oleh usia produktif (15-24 tahun).
~ Peran Pemuda: Kolaborasi untuk menciptakan Cirebon Youth Hub—pusat pelatihan kerja dan inkubator bisnis UMKM yang menghubungkan lulusan baru dengan dunia industri di kawasan Rebana.
3. Digitalisasi Pelayanan Publik hingga Tingkat RT/RW (Skor Prioritas: Menengah)
~ Data/Masalah: Masih adanya celah (gap) dalam akurasi data kemiskinan (DTKS) dan distribusi bantuan sosial.
~ Peran Pemuda: Pemuda yang melek teknologi harus menjadi pendamping birokrasi di tingkat kelurahan untuk memastikan input data pembangunan dilakukan secara transparan dan berbasis digital.
Menuju Tata Kelola yang Inklusif
Persatuan KNPI dan Karang Taruna akan memberikan tekanan positif bagi transparansi anggaran (APBD). Dengan kekuatan kolektif, pemuda bisa memastikan bahwa setiap rupiah dalam pembangunan wilayah tepat sasaran.
Kita tidak ingin melihat pemuda Cirebon hanya menjadi penonton dalam peresmian gedung atau seremoni hari jadi kota. Kita ingin pemuda duduk bersama di meja Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), memberikan solusi berbasis data, dan mengawal eksekusinya di lapangan.
Penutup
Sudah saatnya “Cirebon Guyub” bukan sekadar jargon. Persatuan KNPI dan Karang Taruna adalah kunci untuk mendobrak sekat-sekat birokrasi yang kaku. Jika energi intelektual bertemu dengan energi massa, maka tata kelola Kota Cirebon yang maju, bersih, dan inklusif bukan lagi sekadar impian di atas kertas.
Selamat Datang 2026, Semoga Pemuda Cirebon Guyub Selalu.
(Wahyudi (Sekretaris Garda Satuan Bakti Karang Taruna dan Pemerhati Kepemudaan di Kota Cirebon)/CIBA)



